Rapat Koordinasi Strategi Kemandirian Susu Nasional

Ketika Susu Jadi Bahasan Serius di Malang

Selasa siang kemarin (21/7), saya sempat mendengar kabar tentang sebuah rapat koordinasi yang menurut saya cukup menarik untuk ditulis di sini — bukan rapat biasa, tapi rapat yang membahas sesuatu yang dekat dengan keseharian banyak orang di Malang Raya: susu.

Bertempat di Hotel Grand Mercure Malang, Rapat Koordinasi Strategis Sektor Persusuan ini dipimpin langsung oleh Wakil Menteri Koordinator Bidang Pangan, Dr. Hanif Faisol Nurofiq, dan dihadiri oleh Wakil Bupati Malang, Dra. Hj. Lathifah Shohib. Yang bikin saya sedikit kaget, forumnya cukup lengkap — ada perwakilan kementerian, akademisi, sampai pemain besar industri susu nasional seperti Nestle dan Cimory, juga GKSI, BBIB Singosari, Bulog, dan asosiasi pengusaha pakan ternak. Jarang-jarang satu meja bisa mengumpulkan sebanyak itu pemangku kepentingan dari satu sektor.

Kenapa Malang?

Buat yang belum tahu, Kabupaten Malang ini sebenarnya salah satu sentra sapi perah terbesar di Indonesia. Daerah seperti Pujon, Ngantang, dan Jabung sudah lama dikenal sebagai kawasan peternakan sapi perah. Jadi wajar kalau pemerintah pusat melirik daerah ini sebagai bagian dari strategi memperkuat ketahanan pangan nasional.

Salah satu poin yang menarik perhatian saya: Kabupaten Malang baru saja menerima bantuan 60 ekor sapi perah, yang dibagi rata — 30 ekor untuk Ngantang dan 30 ekor untuk Pujon. Angkanya memang belum terlalu besar, tapi menurut Wabup, ini dimaksudkan sebagai pemantik semangat buat para peternak lokal supaya terus mengembangkan usahanya.

Bukan Cuma Soal Produksi

Yang saya suka dari diskusi ini, fokusnya tidak melulu soal angka produksi susu. Wabup Malang menekankan bahwa sektor persusuan ini juga soal ekonomi masyarakat — bagaimana koperasi unit desa (KUD) mulai diramaikan oleh industri rumah tangga yang mengolah susu segar jadi produk kemasan siap jual, bahkan sampai dipasarkan ke luar Kabupaten Malang.

Ada juga ajakan yang cukup membumi dari Wabup, mengajak petani dan buruh tani untuk memanfaatkan waktu luang mereka memelihara sapi perah — istilahnya ngingu dalam bahasa lokal. Sederhana, tapi kalau dipikir-pikir, ini strategi yang cukup masuk akal untuk mendorong ekonomi tingkat rumah tangga.

Faktor pendorong lain yang disebut dalam rapat ini adalah program Makan Bergizi Gratis (MBG). Kebutuhan susu nasional otomatis naik seiring program ini berjalan, dan itu artinya pasar buat peternak lokal juga makin terbuka.

Catatan Pribadi

Sebagai warga yang tinggal di Malang, ada rasa bangga tersendiri melihat daerah sendiri disorot sebagai salah satu penyangga ketahanan pangan nasional. Tapi saya juga sadar, niat baik semacam ini pasti akan menghadapi tantangan di lapangan — mulai dari distribusi bantuan yang merata, pendampingan peternak, sampai memastikan hasilnya benar-benar dirasakan sampai level rumah tangga, bukan cuma jadi berita seremonial.

Semoga saja kolaborasi lintas sektor yang dibahas dalam rakor ini — antara pemerintah, peternak, industri, dan akademisi — benar-benar berjalan, dan Malang bisa jadi contoh nyata bagaimana potensi lokal diangkat jadi kekuatan pangan nasional.

Susu dan Perannya dalam Kehidupan Manusia

PENDAHULUAN

Susu merupakan salah satu bahan pangan asal ternak yang memiliki nilai gizi tinggi dan berperan penting dalam kehidupan manusia sejak masa bayi hingga lanjut usia. Secara biologis, susu adalah sekresi normal kelenjar ambing mamalia yang digunakan untuk memenuhi kebutuhan nutrisi anaknya. Namun dalam konteks manusia, susu telah berkembang menjadi komoditas pangan strategis yang dikonsumsi secara luas dalam berbagai bentuk.

Peran susu tidak hanya terbatas pada pemenuhan kebutuhan nutrisi, tetapi juga mencakup aspek kesehatan, ekonomi, sosial, dan industri. Dalam bidang peternakan, susu merupakan produk utama dari sapi perah, kambing perah, dan hewan laktasi lainnya yang memiliki kontribusi besar terhadap ketahanan pangan.

Selain itu, perkembangan teknologi pangan telah menghasilkan berbagai produk olahan susu seperti yoghurt, keju, dan susu fermentasi yang semakin memperkaya pilihan konsumsi masyarakat.

Konten Pembelajaran

A. Definisi dan Komposisi Suau

  • Ada yang campuran (rekombinasi / susu bubuk + air)

Contoh:

  • Diamond: ±99,9% susu segar
  • Indomilk: ±98%
  • Frisian Flag: ±73% (campuran beberapa bahan susu)

Ini bisa memengaruhi:

  • kualitas protein
  • rasa
  • nilai biologis

Kesimpulan

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit. Ut elit tellus, luctus nec ullamcorper mattis, pulvinar dapibus leo.

Ilmu dan Pengolahan Limbah Ternak

A. Deskripsi Mata Kuliah

Mata kuliah Ilmu dan Manajemen Pengolahan Limbah Ternak membahas konsep, prinsip, dan penerapan pengelolaan limbah yang dihasilkan dari berbagai sistem usaha peternakan, meliputi limbah padat, cair, dan gas. Mahasiswa mempelajari karakteristik limbah ternak dari berbagai komoditas (sapi perah, sapi potong, unggas, dan ruminansia kecil), dampaknya terhadap lingkungan dan kesehatan masyarakat, serta regulasi dan kebijakan pengelolaan lingkungan di sektor peternakan. Pembelajaran difokuskan pada pendekatan ilmiah dan manajerial, mencakup identifikasi sumber dan kuantitas limbah, teknik pengolahan limbah secara fisik, kimia, dan biologis, serta pemanfaatan limbah ternak menjadi produk bernilai tambah seperti pupuk organik, biogas, dan energi terbarukan. Selain itu, mahasiswa dibekali kemampuan menyusun rencana pengelolaan limbah peternakan yang berkelanjutan, efisien, dan ramah lingkungan, sesuai dengan prinsip Good Farming Practices dan pembangunan peternakan berkelanjutan.

B. Topik Perkuliahan

Topik 1. Pengantar Ilmu dan Manajemen Pengolahan Limbah Ternak

Cakupan:

  • Definisi limbah peternakan
  • Ruang lingkup limbah peternakan
  • Karakteristik berbagai jenis limbah peternakan
  • Perbedaan limbah dan hasil samping (by-product)

Topik 2. Fisikokimia Limbah Peternakan

Cakupan:

  • Sifat Fisik limbah peternakan
  • Sifat Kimia limbah peternakan
  • Indikator Anorganik
  • Konsep penting: (pH, BOD & COD)

Topik 3. Biokimia Limbah Peternakan

Cakupan:

  • Degradasi Limbah Peternakan secara Aerob dan Anaerob
  • Proses Biokimia Limbah Peternakan Secara Aerob (Fase Mesofilik (Awal), Fase Termofilik (Aktif), Fase Pendinginan (Cooling) dan Fase Pematangan (Maturation))
  • Prosen Biokimia limbah secara Anaerob (Hidrolisis, Asidogenesis, Asetogenesis dan Metanogenesis)

Topik 4. Mikrobiologi Limbah Peternakan

Cakupan:

  • Mempelajari jenis-jenis mikrorganisme pada limbah peternakan (Bakteri aerob, Bakteri anaerob, Archaea metanogen)
  • Mempelajari Peran mikroba dalam pengoalahan limbah peternakan (Dekomposisi bahan organic, Reduksi pathogen, Stabilitas limbah)

Topik 5. Ekologi Limbah Peternakan

Cakupan:

  • Memahami proses siklus Nitrogen, siklus carbon dan siklus Phosphor pada limbah Peternakan

Topik 6. Ekologi Industri

Cakupan:

  • Memahami pendekatan pengolahan limbah melalui model ekologi industri dalam menciptakan penanganan limbah yang berkelanjutan

Menjadi Dosen Tamu di Shinshu University, Jepang

Awal tahun 2026 menjadi momen penting bagi Fakultas Peternakan Universitas Brawijaya (Fapet UB) dalam memperluas jejaring akademik internasional. Salah satu dosen Fapet UB, Dr. Muchamad Muchlas, S.Pt., M.Pt., Ph.D., mendapatkan kesempatan berharga untuk menjadi guest lecturer di Fakultas Pertanian Shinshu University, Jepang.

Kegiatan ini berlangsung cukup panjang, mulai 23 Desember 2025 hingga 13 Januari 2026. Selama hampir satu bulan di Jepang, Dr. Muchlas tidak hanya hadir sebagai tamu, tetapi benar-benar terlibat aktif dalam kegiatan akademik. Ia mengampu tujuh kali perkuliahan intensif, masing-masing berdurasi dua jam, dengan materi utama bertema Biological Resources yang disampaikan dalam bahasa Inggris.

Perkuliahan ini didampingi langsung oleh Associate Professor Shinshu University, Prof. Uyeno Yutaka, dan diikuti oleh mahasiswa serta sivitas akademika setempat. Diskusi di kelas berlangsung interaktif, mencerminkan pertukaran gagasan antara perspektif tropis Indonesia dan pendekatan riset di Jepang.

Tak berhenti di ruang kelas, Dr. Muchlas juga memanfaatkan kesempatan ini untuk memperkuat kolaborasi riset. Bersama Prof. Uyeno Yutaka, ia melakukan diskusi mendalam di Laboratorium Nutrisi dan Makanan Ternak. Fokus utama diskusi adalah penyelarasan roadmap penelitian antara Fapet UB dan Shinshu University, khususnya dalam pengembangan inovasi di bidang nutrisi ternak dan pemanfaatan sumber daya hayati.

Kegiatan guest lecture ini menjadi bukti nyata komitmen Fapet UB dalam mendorong internasionalisasi pendidikan tinggi. Selain meningkatkan pengalaman dan reputasi dosen di level global, kerja sama ini diharapkan membuka jalan bagi riset bersama, publikasi internasional, serta program pertukaran mahasiswa dan dosen di masa depan.

Langkah kecil dari ruang kelas di Jepang ini diharapkan membawa dampak besar bagi penguatan Tridarma Perguruan Tinggi Universitas Brawijaya di kancah internasional

Beassiwa Fapet UB dengan Charoen Pokphand (CP)

Kuliah di jurusan Peternakan, khususnya di Fakultas Peternakan Universitas Brawijaya, membuka banyak peluang untuk memperoleh beasiswa, terutama karena kedekatan kampus dengan dunia industri. Pada tahun 2026, Fakultas Peternakan Universitas Brawijaya bekerja sama dengan PT Charoen Pokphand Indonesia (CP) membuka peluang beasiswa pendidikan bagi mahasiswa.

Sebagai salah satu kampus unggulan di wilayah Indonesia bagian timur, Fakultas Peternakan Universitas Brawijaya memiliki peran strategis dalam mencetak dan menyuplai sumber daya manusia yang berkualitas. Kontribusinya sangat signifikan, khususnya dalam mendukung kebutuhan tenaga profesional di industri peternakan unggas, termasuk di lingkungan PT Charoen Pokphand Indonesia.

Menariknya, program beasiswa ini dikoordinasikan oleh Achmad Widjayanto, S.Pt., teman seangkatan saya tahun 2010, yang saat ini dipercaya sebagai Kepala Unit Jawa Timur dan bertindak sebagai Penanggung Jawab (PJ) beasiswa. Dalam program ini, saya turut membantu sebagai perwakilan dari Universitas Brawijaya untuk memastikan proses berjalan optimal dan tepat sasaran.

Program beasiswa Fapet UB X CPI
Podcast Sosialisasi Beasiswa

Sistem industri ternak perah indonesia

A. Pendahuluan

Industri ternak perah merupakan salah satu subsektor penting dalam pembangunan peternakan nasional karena berperan langsung dalam penyediaan susu sebagai sumber protein hewani yang bernilai gizi tinggi. Seiring meningkatnya pertumbuhan penduduk, perubahan pola konsumsi, dan kesadaran masyarakat terhadap pangan bergizi, kebutuhan susu di Indonesia terus mengalami peningkatan setiap tahun. Namun demikian, produktivitas sapi perah domestik dan kapasitas industri hulu–hilir masih menghadapi banyak tantangan, mulai dari keterbatasan bibit unggul, manajemen pemeliharaan yang belum optimal, hingga efisiensi rantai pasok susu segar yang masih rendah.

Sistem industri ternak perah mencakup seluruh aktivitas terpadu dari hulu hingga hilir, yaitu penyediaan sarana produksi (pakan, bibit, obat), proses budidaya dan pengelolaan ternak, kegiatan pascapanen seperti pemerahan dan penanganan susu, hingga pemasaran dan distribusi produk olahan susu. Keterpaduan sistem ini sangat menentukan keberlanjutan usaha ternak perah sekaligus meningkatkan daya saing produk susu nasional. Selain itu, keberhasilan pengembangan industri ternak perah juga membutuhkan dukungan teknologi, kelembagaan peternak, pola kemitraan, dan kebijakan pemerintah yang berpihak pada peningkatan produktivitas serta efisiensi usaha.

Dengan demikian, pemahaman mengenai sistem industri ternak perah menjadi penting agar seluruh pemangku kepentingan—baik peternak, pelaku industri, akademisi, maupun pembuat kebijakan—dapat berkontribusi dalam memperkuat ketahanan pangan nasional melalui peningkatan produksi dan kualitas susu lokal.

PPT

Manajemen Pemerahan dan Mesin Perah

A. PENDAHULUAN

        Manajemen pemerahan sering juga di sebut sebagai milk harvesting management yang merupakan tahapan akhir namun sangat krusial dalam keseluruhan rangkaian manajemen peternakan sapi perah. Proses ini tidak hanya berfungsi untuk memperoleh susu sebagai produk utama, tetapi juga mencerminkan kualitas penerapan manajemen kesehatan ambing, kesejahteraan ternak, dan efisiensi kerja di dalam peternakan. Pemerahan yang dilakukan dengan teknik yang tepat, peralatan yang higienis, serta prosedur yang konsisten akan mempengaruhi kuantitas dan kualitas susu yang dihasilkan. Selain itu, manajemen pemerahan yang baik dapat menurunkan risiko mastitis, menjaga produktivitas sapi, serta meningkatkan keuntungan usaha. Dengan demikian, pemahaman mengenai prinsip dan tahapan pemerahan yang benar menjadi aspek fundamental dalam pengelolaan sapi perah modern.

B. KONTEN MATERI

Manajemen pemerahan merupakan rangkaian kegiatan yang bertujuan untuk memastikan proses pengambilan susu berlangsung higienis, efisien, dan aman bagi ternak maupun produk yang dihasilkan.

1. Mamanajemen Pre-Pemerahan

Persiapan lingkungan pemerahan, kebersihan peralatan, serta penanganan sapi. Kebersihan kandang perah, pencucian milking unit, serta pemeriksaan kesehatan ambing sangat penting untuk meminimalkan kontaminasi dan mencegah terjadinya mastitis. Pada tahap ini dilakukan pula pre-milking seperti pencucian ambing, forestripping, dan aplikasi pre-dipping dengan disinfektan untuk menurunkan jumlah bakteri pada puting.

2. Tahapan saat Pemerahan

okus utama adalah memastikan proses berjalan lancar tanpa menyebabkan cedera atau stres pada sapi. Operator harus memasang milking cluster dengan benar, memantau aliran susu, serta memastikan mesin bekerja pada vakum dan pulsasi yang sesuai standar. Pemerahan harus dilakukan secara konsisten, tenang, dan tanpa gangguan, karena kondisi lingkungan yang nyaman dapat meningkatkan let-down reflex dan menghasilkan aliran susu yang optimal. Pemerahan juga harus berhenti tepat waktu untuk menghindari overmilking yang dapat merusak puting dan menyebabkan infeksi.

3. Pasca Pemerahan

Setelah pemerahan selesai, dilakukan tindakan pascapemerahan atau post-milking yang bertujuan menjaga kesehatan puting dan kualitas susu. Puting sapi dicelupkan dengan larutan post-dip sebagai perlindungan terhadap bakteri lingkungan. Sapi kemudian dibiarkan berdiri beberapa menit untuk mencegah kotoran masuk ke saluran puting yang masih terbuka. Di sisi lain, peralatan pemerahan harus segera dicuci dan disanitasi menggunakan prosedur Clean In Place (CIP) untuk mencegah residu susu dan kontaminasi bakteri. Manajemen pascapemerahan yang baik akan mempertahankan higienitas peralatan, mengurangi risiko mastitis, serta memastikan kualitas susu tetap tinggi.

C. Macam-Macam Sistem Pemerahan

1. Sistem Pemerahan Manual (Hand Milking)

Sistem ini dilakukan dengan memerah ambing sapi menggunakan tangan tanpa alat bantu.

Kelebihan:

  • Biaya awal rendah

  • Tidak memerlukan listrik

  • Cocok untuk peternakan kecil

Kekurangan:

  • Tidak efisien untuk jumlah sapi banyak

  • Berisiko kontaminasi lebih tinggi

  • Tidak seragam tekanannya sehingga meningkatkan risiko mastitis

2. Sistem Pemerahan Dengan Mesin Portabel (Portable Milking Unit / Bucket Milking)

Menggunakan mesin pemerah yang terhubung pada bucket (ember stainless) yang menampung susu.

Kelebihan:

  • Lebih higienis daripada manual

  • Mobilitas tinggi, dapat dipindah dari satu sapi ke sapi lain

  • Cocok untuk skala kecil–menengah

Kekurangan:

  • Masih memerlukan banyak tenaga kerja

  • Proses pembersihan alat harus sangat teliti

3. Sistem Pipeline Milking (Pemerahan dengan Pipa Susu)

Aliran susu dari mesin pemerah langsung mengalir ke pipa (pipeline) menuju ruang pendingin susu (milk room).

Kelebihan:

  • Lebih cepat dan higienis

  • Efisiensi tenaga kerja lebih baik

  • Susu tidak banyak terekspos lingkungan

Kekurangan:

  • Investasi awal lebih besar

  • Membutuhkan desain kandang terstandar

a. Herringbone Parlour

Sapi berdiri miring 30–45° terhadap pit operator.

Kelebihan:

  • Mudah dipasang dan populer

  • Sapi mudah masuk dan keluar

Kekurangan:

  • Akses ke ambing tidak sepenuhnya frontal

b) Parallel Parlour (Side-by-Side)

Sapi berdiri tegak lurus, operator memerah dari belakang.

Kelebihan:

  • Loading cepat

  • Ruang lebih efisien

  • Akses ambing konsisten dari belakang

Kekurangan:

  • Visualisasi puting lebih terbatas dibanding tandem

c. Tandem Parlour (Side Opening)

Sapi berdiri lurus, pintu samping membuka satu per satu.

Kelebihan:

  • Akses individual ke setiap sapi

  • Cocok untuk sapi dengan masalah ambing

Kekurangan:

  • Waktu pemerahan total bisa lebih lama

d. Rotary Parlour (Carousel Parlour)

Sistem pemerahan otomatis dengan platform berputar.

Kelebihan:

  • Kapasitas sangat tinggi (ratusan sapi/jam)

  • Alur kerja sangat efisien

  • Sangat cocok untuk peternakan besar

Kekurangan:

  • Investasi dan perawatan mahal

  • Membutuhkan operator terlatih

D. Detergent & Sanitisers

Detergen dan sanitiser digunakan untuk membersihkan kotoran (soil) dari peralatan pemerahan dan membunuh bakteri. Bakteri adalah penyebab turunnya kualitas susu, tetapi kotoranlah yang menjadi sumber makanan bakteri sehingga mereka dapat berkembang biak. Karena itu, membersihkan kotoran adalah prioritas utama.

Jenis-jenis kotoran (soil) pada peralatan pemerahan

Ada tiga jenis kotoran:

1. Mineral

  • Termasuk residu anorganik dari air atau susu.

  • Tampak sebagai lapisan kusam, berubah warna, dan sering seperti bubuk di permukaan stainless steel.

  • Tidak menjadi makanan bakteri, tapi menjadi tempat persembunyian bakteri.

  • Endapan mineral membuat permukaan menjadi kasar sehingga lebih mudah menangkap endapan protein.

2. Lemak (Fat)

  • Berasal dari susu → termasuk kotoran organik.

  • Merupakan media yang sangat baik bagi pertumbuhan bakteri.

  • Mudah dikenali karena bersifat berminyak/greasy.

3. Protein

  • Juga berasal dari susu → kotoran organik.

  • Ditandai dengan warna pelangi kebiruan pada permukaan stainless steel.

Cara Penanganan yang Tepat

Untuk menghilangkan semua jenis kotoran ini, diperlukan dua jenis bahan pembersih:

  1. Acid Sanitiser → untuk menghilangkan endapan mineral

  2. Chlorinated Alkaline → untuk menghilangkan lemak dan protein

Keduanya harus digunakan dalam program pencucian (wash program).


Tata Laksana dan Perkandangan Sapi Perah

A. Pendahuluan

Perkandangan sapi perah merupakan salah satu aspek penting dalam sistem produksi susu. Kandang tidak hanya berfungsi sebagai tempat tinggal sapi, tetapi juga menjadi lingkungan yang mendukung kesehatan, kenyamanan, dan produktivitas sapi perah. Pengelolaan kandang yang baik dapat meningkatkan produksi susu, menurunkan risiko penyakit, dan menunjang kesejahteraan hewan.

Faktor Dasar Perkandangan Sapi Perah

Kunci utama sistem perkandangan sapi perah adalah Kenyamanan. Kenyamanan dari ternak di lihat dari poin-poin berikut:

1. Suhu Lingkungan

Suhu merupakan faktor lingkungan paling kritis bagi sapi perah, terutama di daerah tropis seperti Indonesia. Suhu yang sesuai dengan kebutuhan fisiologis ternak akan menjaga performa, nafsu makan, produksi susu, dan kesehatan tetap optimal. Suhu yang terlalu panas dapat menyebabkan heat stress, yang berdampak pada penurunan konsumsi pakan, gangguan reproduksi, dan penurunan produksi susu. Sebaliknya, suhu yang terlalu dingin dapat mengganggu metabolisme dan meningkatkan kebutuhan energi ternak. Animals 15 00249 g001

Heat stress - DairyNZ | DairyNZ

Untuk menjaga kenyamanan suhu, beberapa aspek harus diperhatikan:

  • Ventilasi yang baik untuk memastikan pertukaran udara berjalan optimal dan mengurangi gas berbahaya seperti amonia.

  • Sirkulasi udara yang lancar membantu mendinginkan ternak dan menstabilkan kelembapan lingkungan.

  • Tingkat kelembapan yang ideal sangat penting, karena kelembapan tinggi meningkatkan risiko penyakit pernapasan dan memperparah efek panas.

  • Desain atap yang baik, seperti kemiringan yang cukup, ketinggian yang memadai, dan penggunaan bahan atap yang tidak menyerap panas berlebih.

  • Pemilihan bahan atap yang mampu memantulkan panas atau memberikan insulasi tambahan untuk menjaga suhu tetap stabil.

2. Kebersihan Lingkungan

Kebersihan kandang menjadi faktor penting dalam mencegah infeksi dan penyakit. Lingkungan yang bersih mengurangi risiko mastitis, penyakit kulit, diare, serta menekan pertumbuhan bakteri, parasit, dan lalat.

Penekanan pada kebersihan mencakup:

  • Pengelolaan kotoran yang baik dan rutin.

  • Sistem drainase yang optimal untuk mencegah genangan.

  • Alas kandang atau bedding yang kering, bersih, dan diganti secara berkala.

  • Penyediaan area khusus untuk mandi atau pencucian ambing sebelum pemerahan.

Kebersihan yang terjaga secara konsisten akan meningkatkan kenyamanan ternak dan berkontribusi pada kualitas produksi susu yang lebih baik.

3. Pakan dan Air

Ketersediaan pakan dan air yang mudah diakses merupakan bagian penting dari kenyamanan ternak. Desain kandang harus memudahkan sapi dalam memperoleh pakan berkualitas serta air minum bersih sepanjang waktu.

Beberapa prinsip penting:

  • Tempat pakan (feed bunk) harus mudah diakses dan memiliki ketinggian yang sesuai dengan postur sapi.

  • Air minum harus tersedia ad libitum, bersih, dan terjamin kualitasnya.

  • Sistem distribusi pakan yang efisien, termasuk jalur untuk kendaraan pakan atau penggunaan feed alley.

  • Penempatan tempat minum pada area strategis agar tidak mengganggu pergerakan ternak.

Ketersediaan nutrisi dan air yang baik berdampak langsung pada performa produksi, kesehatan, dan kenyamanan sapi perah.

4. Ternak (Fokus Kesejahteraan Hewan)

Kesejahteraan hewan (animal welfare) merupakan konsep dasar dalam manajemen kandang modern. Pengaturan tata laksana perkandangan harus mempertimbangkan naluri alami ternak dan kondisi fisiologisnya.

Beberapa hal yang perlu diperhatikan:

  • Kepadatan kandang tidak boleh melebihi kapasitas, agar ternak bebas bergerak dan tidak stres.

  • Perilaku alami ternak, seperti berdiri, berbaring, menjilat, dan berjalan, harus difasilitasi melalui ruang yang cukup.

  • Penanganan ternak harus dilakukan dengan cara yang ramah, menghindari perlakuan kasar.

  • Fasilitas kandang, seperti tempat berbaring (stall) yang nyaman, lantai yang tidak licin, dan area pemerahan yang aman.

Ternak yang dipelihara dengan memperhatikan kesejahteraannya akan menunjukkan performa produksi yang lebih baik dan tingkat stres yang lebih rendah.

5.  Kesehatan ternak dan Biosecurity

Kandang khusus untuk ternak yang memerlukan perlakuan khusus atau sedang sakit. Penyediaan ruangan khusus obat hewan

6. Pencahayaan dan penerangan

Pencahayaan dan penerangan yang baik merupakan faktor lingkungan penting yang mempengaruhi perilaku dan pola makan ternak, khususnya sapi perah. Intensitas cahaya yang cukup membantu merangsang aktivitas harian ternak, termasuk aktivitas makan, karena sapi cenderung lebih aktif dan lebih sering mengonsumsi pakan pada kondisi terang dibandingkan gelap. Cahaya juga berperan dalam mengatur ritme sirkadian melalui pengendalian hormon melatonin, sehingga pola makan ternak menjadi lebih teratur dan stabil. Pemberian pencahayaan dengan durasi panjang atau long-day lighting (sekitar 16 jam terang dan 8 jam gelap) terbukti meningkatkan konsumsi bahan kering (Dry Matter Intake/DMI) yang berdampak pada meningkatnya produksi susu. Sebaliknya, pencahayaan yang buruk atau redup dapat membuat ternak pasif, menurunkan nafsu makan, serta meningkatkan stres lingkungan. Oleh karena itu, pengaturan pencahayaan yang optimal tidak hanya berfungsi untuk visibilitas, tetapi juga menjadi bagian penting dalam mendukung kesehatan, kenyamanan, dan produktivitas ternak perah.

 

B. Macam-Macam Sistem Perkandangan Sapi Perah

Sistem perkandangan sapi perah dapat dibedakan berdasarkan tingkat kebebasan gerak sapi, intensitas pemeliharaan, serta desain strukturalnya. Berikut beberapa sistem yang umum digunakan:

1. Sistem Tie Stall (Kandang Ikat)

Pada sistem ini, sapi ditempatkan dalam petak individual dan diikat sehingga pergerakannya terbatas. Sistem ini mempermudah kontrol pakan dan pemerahan, tetapi dapat membatasi kenyamanan sapi.

Tiestall Design - The Dairyland Initiative

Kelebihan:

1. Kontrol Pakan menjadi lebih mudah

  • Kontrol pakan lebih mudah.
  • Pemeriksaan kesehatan lebih cepat.
  • Cocok untuk lahan terbatas.

Kekurangan:

  • Kebebasan gerak sapi sangat terbatas.
  • Risiko stres dan cedera lebih tinggi.
  • Tidak cocok untuk sistem peternakan modern yang berbasis animal welfare.

2. Sistem Free Stall (Kandang Lepas Berpetak)

Sapi memiliki kebebasan bergerak di area kandang dan dapat memilih tempat berbaring pada petak (stall) yang disediakan.

Free Stall Cow Barns | AGRIPRO

Kelebihan:

  • Memberikan kenyamanan dan kebebasan gerak sapi.
  • Lebih higienis dan mudah dipelihara.
  • Produksi susu umumnya lebih tinggi.

Kekurangan:

  • Biaya pembangunan relatif tinggi.
  • Membutuhkan manajemen kotoran yang baik.

3. Sistem Loose House (Kandang Koloni)

Sapi dilepas dalam satu ruangan besar tanpa petak tidur individu. Biasanya dilengkapi area makan dan minum terpisah.

Loose housing is important despite costs - Farmers Weekly

Kelebihan:

  • Kebebasan bergerak sangat tinggi.
  • Lebih ekonomis dibanding free stall.

Kekurangan:

  • Persaingan antar sapi dapat terjadi.
  • Kebersihan kandang harus sangat diperhatikan.

4. Sistem Pasture-Based (Berbasis Padang Penggembalaan)

Sapi dipelihara di padang rumput dan hanya masuk kandang saat malam atau musim tertentu.

Grazing: Exploring dairy feed systems for optimal cow nutrition - All About  Feed

Kelebihan:

  • Biaya pakan lebih murah.
  • Kesejahteraan hewan tinggi.

Kekurangan:

  • Membutuhkan lahan luas.
  • Produksi susu bisa kurang stabil pada musim kemarau.

PPT